Categories
Main

Kemitraan Induk Bunting

Menurut Bintoro Tantono, Kepala Unit Feedlot Probolinggo PT Santori, kemitraan perusahaan melibatkan perbankan (Bank BRI), peternak, dan pendamping teknis yang berasal dari akademisi Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang. Kemitraan dimulai sejak Oktober 2016 berbekal sapi indukan sebanyak 1.911 ekor yang diimpor April 2016. Santori berencana memberdayakan peternak dengan memitrakan induk bunting ke 25 kabupaten di Jawa Timur.

Dalam kemitraan ini, Santori bertanggung jawab menyediakan sapi bunting dan membeli kembali induk kering dan anakannya. Perusahaan yang juga memiliki dua lokasi peternakan sapi di Lampung tersebut mendatangkan induk betina Brahman Cross dari Australia. Induk betina itu lalu dikawinsuntik (inseminasi buatan) dengan sperma sapi Brahman dari Amerika sampai bunting. Sementara peternak memelihara sapi bunting tersebut hingga melahirkan lantas memelihara anakannya (pedet) sampai umur 12 bulan kalau betina atau 15 bulan bila jantan. Peternak mendapat pem biayaan dari KUR Sapi Bank BRI de ngan bunga 9% untuk membeli sapi bun ting, pakan, obatobatan, asuransi, dan trans portasi. “Satu siklus pemeliharaan makan waktu 18 bulan. Santori menjual induk bunting 6 bulan kepada peternak. Tiga bulan ke mudian, induk akan melahirkan. Setelah pedet disapih umur 4 bulan, yaitu pada bulan ke7, induk kosong dijual ke Santori, sementara peternak membesarkan pedet.

Pada saat yang sama, Santori kembali menjual induk bunting ke peternak itu. Nanti bulan ke-18, anakan jantan dijual ke Santori sebagai bakalan. Jadi, setiap 7 bulan, Santori dan peternak bertukar induk dan bakalan. Saat itu peternak mendapat pembayaran. Begitu seterusnya,” jabar Bintoro. Semester pertama tahun ini, lanjut alum nus Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya 1983, tersebut, Santori menargetkan 200 ekor induk yang akan dimitrakan. Sampai awal Maret ini, jumlah peternak yang telah bermitra sebanyak 9 orang dengan total sapi 45 ekor. Tiap peternak memelihara satu paket sebanyak 5 ekor dengan pembiayaan sekitar Rp120 juta per orang. Jadi, semester satu ini, BRI menyediakan kredit senilai Rp30 miliar. Miselan, Ketua Kelompok Tani Srigading I, Desa Gading Kulon, Kec. Dau, Kab. Ma lang, termasuk yang terlibat dari awal pembentukan kemitraan tersebut. “Kami coba merancang usaha dari hulu sampai hilir dengan menggali potensi yang ada di teman-teman. Ya supaya usaha peternakannya meningkat dari bawah ke menengah.

Kepemilikan sapi teman-teman hanya sa tu sampai tiga ekor. Ka mi ingin fokus ber kembang, jadi bukan sampingan atau ce leng an lagi. Dengan ge netik sapi yang ba gus, kami targetkan pertumbuhan bobot badan 1 kg/ hari. Kan untungnya bagus,” tuturnya kepada AGRINA. Peternak yang mengaku memelihara sapi sejak remaja ini kebagian memelihara 33 ekor pedet (umur 4 bulan) mulai 30 Oktober 2016. Pedet-pedet tersebut berasal dari indukan yang masuk Indonesia sudah dalam kondisi bunting. “Yang betina saya pelihara setahun, lalu kembali ke Santori (untuk peremajaan induk). Terus yang jantan saya pelihara 18 bulan (sampai 300-350 kg). Umur 20-21 bulan kembali ke sana siap potong. Ini bisnisnya di sini,” ujar Miselan bersemangat. pung tersebut mendatangkan iSupaya kemitraan berkesinambungan, tentu peternak berharap mendapat penghasilan yang lebih baik. “Untungnya 30% dari total biaya. Ini untung bersih,” aku Miselan. Hitungan Bintoro, peternak bisa memperoleh sekitar Rp1 juta per bulan per paket lima ekor. Supaya lebih baik, peternak disarankan meningkatkan omzet dengan mengambil dua paket kredit. “Untuk menambah penghasilan, peternak juga melakukan budidaya cacing tanah dengan memanfaatkan kotoran sapi sebagai medianya. Yah, total Rp3 jutaan per bulan bisa diraih,” papar pria yang sebelumnya mengurus pembibitan ayam dari 1983- 2008 ini. Bicara mengenai rencana semester kedua 2017, sambung Bintoro, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi ke sejum lah kabupaten yang belum didatangi.

Hingga saat ini, 70% kabupaten target sudah mendapat penyuluhan tentang kemi traan ini, yaitu Malang, Batu, Probo linggo, Blitar, Tulungagung, Pacitan, Lamongan, Jember, dan Kediri. “Target kami bisa menyebarkan induk sebanyak 600 ekor per bulan dan menggandeng 120 orang peternak,” tandasnya. Induk tersebut hasil pembuntingan induk yang diimpor 26 Desember 2016 sebanyak 3.826 ekor. Agar program kemitraan berkesinambungan, imbuh Bintoro, Santori kembali akan mendatangkan indukan April mendatang sebanyak 3.000 ekor. Dan BRI akan menyediakan Rp60 miliar untuk semester dua 2017. Siapa peternak di Jawa Timur yang berminat?