Categories
Main

Proses Produksi Susu Greenfields

Shabery mengatakan, Greenfields berhasil membangun suatu ekosistem antara farm besar dengan petani yang saling membantu dan saling bergantung. “Farm yang besar ini memberikan sumbangan sosial yang begitu besar, dan itu membuat saya kagum dan cukup kaget dengan model yang dibuat sedemikian rupa,” pujinya. Greenfields juga diakuinya menjadi pemimpin peternakan sapi perah skala besar di Indonesia. Setelah beroperasi selama hampir dua dekade, perusa haan ini memiliki pengetahuan yang kuat untuk memperluas bisnisnya di luar Indonesia, termasuk ke Tiongkok. “Kami di sini untuk mempelajari beberapa praktik terbaik dalam aspek peternakan sapi perah, serta untuk me lihat kemungkinan Greenfields berinvestasi di Malaysia. Pemerintah pasti membuka jalan untuk memudahkan hubungan tersebut karena tanpa ada suatu bisnis model yang baik, tidak akan bertahan lama, ini menjadi penting,” tegasnya. Heru pun sangat senang dapat berbagi pengalaman dengan rombong an dari Negeri Jiran itu. Menurutnya, Greenfields merupakan peternakan sapi perah terintegrasi terbesar di Indonesia. “Teknologi dan sistem manajemen terintegrasi yang kami miliki memungkinkan kami memperluas bisnis ke Asia Tenggara dan sekitarnya,” tandas Heru.

Konsumsi Susu

Tingkat konsumsi susu masyarakat di ASEAN masih rendah. Di Malaysia konsumsi susu cair sebesar 20 liter per tahun. Sementara konsumsi Indonesia ber dasarkan data BPS 12,5 liter per tahun atau 1,2 liter per bulan atau baru 2- 3 sendok per hari. Artinya, masih ada kesempatan untuk meningkatkan konsumsi susu. Pemenuhan konsumsi 12,5 liter per kapita tersebut, lanjut Heru, yang berasal dari lokal hanya mencapai 18%20%. Sisanya dari impor dalam bentuk susu bubuk. Kondisi persusuan di dalam negeri ini sangat perlu regulasi peme rintah. Intinya, harga susu di level peternak bisa lebih bagus sehingga mereka menikmati pendapatan yang cukup untuk memproduksi susu dan menghidupi keluarga.

Pemerin tah harus mampu merangsang para pelaku usaha baru dan menarik industri atau investasi untuk masuk ke bisnis sapi perah. “Kalau ini tercapai, banyak orang akan berbisnis sapi perah. Pun begitu dengan industri. Industri seperti Green fields ini cuma ada beberapa di Indonesia. Perusahaan besar yang bermain sapi perah itu-itu saja karena kalau hanya menjual susu segar tanpa merek, tidak bakal menutup biaya produksi per liter susu, sedangkan Green fields bisa seperti ini karena mempunyai merek. Kita tidak menjual susu segar dalam bentuk komoditas tetapi dalam bentuk brand sehingga bisa berkem bang,” tukasnya.

Susu Berkualitas

PT Greenfields Indonesia memproduksi susu segar berkualitas tinggi, higienis, dan kaya akan nu trisi. Susu segar ini ber asal dari sekitar 8.500 ekor sapi Holstein impor dari Australia dan ke mudian dibesarkan di peternakan yang terletak di dataran berketinggian 1.200 m di atas permukaan laut dengan suhu 15o -22o C. Head, Marketing & Sales SEA AustAsia Dairy Group, Jan Gert Vistisen me nuturkan, susu diproses dengan tek nologi canggih untuk memenuhi ke butuhan masyarakat Indonesia. Fokus utama Greenfields adalah meng hasilkan susu cair segar dengan kualitas terbaik. Jan menyampaikan, Greenfields didi rikan pada 1997. “Greenfields memproduksi sekitar 42 juta liter susu segar murni setiap tahun. Susu segar murni ini juga dipasarkan di Hongkong, Singapura, Malaysia, Filipina, Myanmar, dan Kamboja,” paparnya. Heru menimpali, sekarang ini Greenfields memiliki 4.000 ekor sapi yang laktasi. Sisanya adalah pedet, dara, dan sapi kering. Produktivitas per ekor mencapai 32 liter susu per hari dengan pemerahan tiga kali sehari, yakni pukul 6 pagi, 2 siang, dan 10 malam. Karena itu operasional peternakan berjalan 24 jam. Melihat permintaan produk susu yang terus meningkat, Greenfields pun membangun pabrik pengolahan su su di Palaan, Malang, dengan inves tasi sebesar US$16 juta. Tak hanya itu, Greenfields juga sedang membangun peternakan sapi yang terintegrasi ke duanya di Wlingi, Blitar, Jawa Timur, dengan investasi sebesar US$38 juta.