Categories
Main

Racikan Pakan Tepat, Margin Patin Berlipat

Mayoritas pembudidaya patin menggunakan pakan mandiri atau pakan aternatif untuk efisiensi biaya produksi. Sebab, pakan menyumbang sekitar 60%-70% biaya produksi. Jika penggunaan pakan boros, biaya produksi semakin bengkak. Menurut H. Aribun Sayunis, Ketua Asosiasi Pengusaha Catfish (APCI) Prov. Lampung, pembudidaya biasanya memanfaatkan pakan alternatif atau pakan mandiri berbasis bahan baku lokal, seperti dedak, bungkil kelapa, tapioka, dan ikan asin. Dengan pakan mandiri, biaya produksi patin sekitar Rp9.000-Rp10.000/kg.

Menggunakan pakan pabrik, biaya produksi menjadi Rp12.600/kg. Jika pembudidaya menggabungkan pakan mandiri dan pakan pabrik, biaya pro duk sinya menjadi Rp11.000/kg. Sedangkan, harga jual pemilik nama latin Pangasius sp. ini sebesar Rp13.000/kg. Sayang, pakan alternatif yang digunakan kerap menghasilkan konversi pakan (feed conversion ratio-FCR) lebih besar. Akibatnya, pertumbuhan patin tidak optimal dan biaya produksi justru lebih besar dari yang diharapkan. Namun dengan racikan yang tepat, pembudidaya bisa mema nen patin dengan keuntungan berlipat.

Imbuhan Pakan

Hasil penelitian skala lapang Dr. Ir. Nur Bambang Priyo Utomo, M.Si, Dosen IPB bekerja sama dengan Sustainable Market Access through Responsible Trading of Fish in Indonesia (SMART-Fish Indonesia) pada beberapa kolam budidaya patin di Batanghari, Kab. Lampung Timur, Lampung dan Kab. Muaro Jambi, Jambi, menunjukkan, pakan mandiri berbahan baku lokal kualitasnya bisa sebaik pakan pabrikan asal memenuhi beberapa kriteria. Kriteria tersebut mencakup pembuatan pakan khusus ikan patin sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI), penambahan imbuhan pakan (feed additive), seperti vitamin, mineral, dan fitase, yang mengandung nutrien yang diperlukan untuk memperbaiki kualitas daging patin, membatasi penggunaan bahan baku mengandung gluten, mengaplikasikan pro biotik untuk memperbaiki kualitas air, dan mana jemen pakan yang tepat.

Menurut Bambang, sapaannya, pakan mandiri memerlukan tambahan premix berupa vitamin mix dan mineral. Vitamin mix terdiri dari berbagai jenis vitamin larut lemak dan larut air yang dibutuhkan ikan. Jika vitamin mix sulit ditemukan di sekitar lokasi budidaya, pembudidaya cukup menggunakan vitamin C dan E. Karena, jelasnya, “Biasanya vitamin C dan E itu yang suka kosong di dalam komposisi pakan lokal.” Dosis vitamin dan mineral mix berkisar 3%-5%. Bahan baku pakan lokal, ulas doktor reproduksi biologi lulusan IPB ini, terkadang mengandung zat antinutrisi, seperti asam fitat. Pemberian enzim fitase akan membuat pakan mandiri lebih mudah dicerna. “Dengan adanya fitase, zat antinurisi itu dinetralisir jadi mudah diserap tubuh. Asam fitat itu diolah fitase jadi gampang diserap tubuh,” terang dia kepada AGRINA saat ditemui pada acara 2nd Round Table Pangasius di Jakarta beberapa waktu lalu.

Selain itu, komposisi pakan juga tidak boleh mengandung gluten terlalu banyak jika tidak ingin daging patin berwarna ku ning. “Jangan dikasih jagung terlalu banyak, pa ling banyak 10%. Jagung ‘kan sumber gluten,” jelasnya. Selain itu, gluten membu tuhkan kua litas air kolam yang bagus dan banyak. Apalagi, pasar lebih meminta daging ber warna putih. Sedangkan penambahan probiotik akan memperbaiki kualitas air. “Kalau pakan mandiri jelek kualitasnya, airnya ‘kan rusak. Nah, patin akan bau lumpur. Jadi, kita tam bahkan probiotik di air biar mengurai,” paparnya. Menggunakan pakan mandiri yang diperkaya imbuhan pakan, lanjut Bambang, membuat biaya pakan terjangkau, FCR lebih rendah, dan performa ikan juga bagus. “Dengan mengubah itu saja, kita menambah Rp100 ribu/ton tapi dapat duit Rp900 ribu/ton tambahannya. Jadi untung Rp800 ribuan/ton, pengalinya gede sekali,” tandasnya.