Categories
Main

Tangkis Penggerek Batang dengan Padi Bt

Menurut Dr. Satya Nugraha, pe neliti Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), hama peng gerek batang padi (PBP) menjadi ancaman signifikan bagi petani padi di Asia. PBP bergaris misalnya, merupakan hama paling penting di Asia dengan dampak kerusakan mencapai 100%. Sedangkan PBP kuning akan mengurangi hasil panen sebanyak 20%-80%. “Di Tiongkok itu (PBP) bisa menghancurkan sampai 100%. Kalau di Indonesia, 20% bisa diselamatkan,” ujar Satya. Dan parahnya lagi, PBP bisa menyerang padi pada berbagai fase pertumbuhan mulai dari pembenihan, vegetatif, hingga generatif. Padahal, produktivitas padi bisa mencapai 9 ton/ha jika kondisi lingkungannya optimum.

Perakitan padi tahan penggerek

Satya menjelaskan, Puslit Bioteknolo gi LIPI mulai merakit padi transgenik tahan penggerek batang sejak 2002. Saat ini padi transgenik tahan penggerek batang atau disebut padi Bt tengah dalam proses uji keamanan pangan. “Padi tahan penggerek itu sudah kami uji di lapangan untuk keamanan lingkungan di empat lokasi: Bogor, Subang, Kuningan – Jabar, dan Serang – Banten. Uji keamanan pa ngan sedang dalam proses penyelesai an,” ulas Kepala Laboratorium Geno mik dan Perbaikan Mutu Tanaman, Puslit Bioteknologi LIPI itu. Padi transgenik tahan penggerek batang atau disebut padi Bt disisipi gen bakteri Bacillus thuringiensis. Satya memaparkan, Bt adalah bakteri tanah ramah lingkungan yang memiliki gen penghasil protein kristal bersifat toksik terhadap beberapa jenis serangga. “Bt ditemukan hampir di seluruh dunia.

Penggunaannya sebagai bio pestisida, khususnya pada pertanian organik. Bt merupakan biokontrol tanaman organik,” tegasnya. Sebelum pada padi, penyisipan gen Bt sukses dilakukan untuk mendapatkan jagung tahan ulat. Sekarang benih jagung Bt telah dipasarkan di sejumlah negara kecuali Indonesia. Dengan menyisipkan gen Bt, diha rap kan padi Bt mengandung ketahan an terhadap serangan hama PBP. Sudah ada 6 galur padi Bt yang berhasil di rakit LIPI. Hasil penelitian menun jukkan, padi Bt memiliki kesamaan yang cukup bagus dari sisi agronomi, seperti tinggi tanaman, jumlah anakan, dan malai, dengan padi non-transgenik. Selain itu, sambung Satya, “Pada percobaan di Banten, tingkat serang an penggerek batang di padi nontransgenik lebih tinggi. Padi transgenik lebih reda serangannya.” Sedangkan hasil uji keamanan lingkungan meyakinkan padi Bt ini tidak berpengaruh pada serangga tanah, populasi mikroba tanah, dan dinamika popu lasi plankton dan benthos. Sebenarnya padi Bt ini sudah siap dilepas untuk petani jika syarat pelepasan varietasnya hanya memerlukan uji multilokasi, seperti pembibitan padi tradisional. Namun, imbuhnya, produk rekayasa genetik memerlukan per syaratan khusus, yaitu uji aman ling kungan, aman pangan, dan aman pakan.

Berbagai Cekaman

Padi menghadapi berbagai cekaman penyakit dan lingkungan saat proses pe nanaman di lapang, seperti kekeringan, salinitas, dan naungan. “Dan (penanaman padi) semakin berat tantangannya karena lingkungan semakin buruk dan lahan produktif semakin menyempit sehingga harus dicari cara membebaskan padi dari penderitaannya,” papar Satya. Karena aneka kendala itu, LIPI juga mengembangkan padi transgenik toleran kekeringan, padi transgenik toleran salinitas, dan padi toleran naungan. Ketiga jenis padi transgenik ini masih dalam skala laboratorium. “Padi toleran salinitas masih dalam skala lab. Beberapa (padi transgenik) menunjukkan toleran kekeringan mempunyai survival rate (peluang hidup) yang tinggi dibandingkan kontrol,” kata Satya. Padi transgenik toleran salinitas diperuntukkan bagi daerah pesisir yang terkena intrusi air laut. Sementara, padi transgenik tahan naungan untuk lahan kawasan hutan lebat yang terhalang sinar matahari.